Beranda Sosial Budaya Sofyan : Wajah Industrialisasi Desa Bisa Menjadi Ikon Kabupaten Dompu

Sofyan : Wajah Industrialisasi Desa Bisa Menjadi Ikon Kabupaten Dompu

42

DOMPU, intirakyat.com – Pemberitaan mengenai anggapan warga Pekat yang lebih banyak memilih menanam jagung ketimbang tebu, Dr. Sofyan Sjaf, Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, mengatakan bahwa hal itu merupakan anggapan yang meski dikaji.

Menurut dia, warga dompu, khususnya Kecamatan Pekat harus berterima kasih atas kehadiran PT. SMS karena wajah industrialisasi desa bisa menjadi ikon Kabupaten Dompu untuk menjadi contoh di republik ini.

“Industrialisasi desa adalah jalan untuk mensejahterakan warga desa. Sektor pertanian bisa hidup jika ada industri hilirnya dan Dompu punya itu dengan komoditas tebunya. Hasil studi PSP3 IPB menunjukkan tebu memberikan Keuntungan per hektar 18,2 juta hingga 27,2 juta. Dibandingkan dengan jagung per panen per hektar 9,2 hingga 15,4 juta,” jelasnya.

Selain itu, menurut Sofyan, bisnis tebu memberikan multi player effect. Warga desa bisa membangun bisnis pupuk dasar, transportasi angkutan hasil panen, jasa tenaga kerja, hingga off farm seperti perbengkelan, pelatihan dan lain lain. Ini karena pasar (hilir) sudah tersedia.

Hal yang menarik, menurut Sofyan, ketika PSP3 IPB melakukan pendampingan untuk pembentukan kawasan Pedesaan tebu rakyat Tambora dan Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA), para kepala desa di enam desa (Kadindi, Tambora, Kadindi Barat, Nangamiro, Karombo, dan Calabai) dan warga sangat antusias merespon untuk memperkuat ekonomi lokal berbasis tebu rakyat. Ini karena potensi industrialisasi desa sudah ada di Pekat.

Baca :   We Save : Jangan Tanyakan Jiwa Kemanusiaan TNI

“Tapi jika masih ada warga yang belum menyadari ini, itu artinya kita butuh sosialisasi atau penyadaran lebih intensif lagi. Saya kira wajar saja ada warga yang belum paham,” terangnya.

Muktar (45) salah seorang petani tebu di Desa Sorinomo, yang telah merasakan manfaat menanam tebu, mengatakan bahwa jauh lebih menguntungkan menanam tebu dibanding jagung. Lebih enteng menanam tebu dan tidak perlu kerja keras.

“Saya bisa katakan bahwa menanam tebu itu adalah pekerjaannya orang malas. Tidak perlu rajin-rajin amat. Kenapa? Karena setelah masa penanaman, tiga bulan berikut silakan kerjakan yang lain, atau mau pergi ke mana saja, mau keliling dunia, silakan, tidak perlu dijaga,” katanya.

Sebaliknya, kata Muktar, menanam jagung itu lebih repot. Dari penanaman sampai jagung-jagung itu masuk karung itu harus betul-betul dijaga.

Baca :   Antisipasi Prilaku 'Bunuh Diri', Kades Dorokobo dan Toga Gelar Yasinan

Pada kesempatan lain, Tahir, mantan kepala desa Soritatanga, mengatakan bahwa tebu lebih menjanjikan dibanding menanam jagung meskipun modal awal untuk menanam tebu lebih besar. Tapi sekali menanam tabu, hasilnya bisa empat kali panen sekali tanam.

“Menanam tebu itu biaya olahnya menyusut karena tidak perlu menanam lagi setelah panen pertama. Cukup memelihara bibit agar tumbuh baik saja. Jadi janganlah kita bernafsu memaksakan jagung saja, sebab hasilnya kita bisa hitung sendiri, jauh lebih untung dan enteng kerjanya,” tuturnya.

Tahir menambahkan bahwa kendala warga untuk berpindah dari jagung ke tebu masih seputar modal yang lebih besar. Bank sepertinya masih lebih percaya memberi modal kepada petani jagung karena perputaran uang lebih cepat dibanding kepada petani tebu.

Menurut Tahir, ke depan potensi tebu dan industri gula jangan disia-siakan oleh pemerintah daerah dan warga Kecamatan Pekat. Saatnya bekerjasama melakukan aksi nyata. Pekat harus menjadi contoh kemajuan desa-desa di Nusantara.(IR3)

BERBAGI