Beranda Opini Representasi Permainan Tradisional Untuk Membangun Karakter Anak

Representasi Permainan Tradisional Untuk Membangun Karakter Anak

23

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (Qhothrun Nadaul Jannah)

intirakyat.com – Dewasa ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan besar, yakni era globalisasi yang belum terjadi total. Globalisasi sebagai fakta yang tidak bisa diingkari dan menjadikan dunia dalam genggaman.

Kita dapat mengetahui informasi, peristiwa, atau kejadian yang terjadi di belahan benua lain dalam hitungan detik melalui internet dan lain-lain. Di era globalisasi yang semakin langkahnya tak terbendung, semua serba modern dan serba otomatis. Kebutuhan kita terhadap seseorang mulai tergantikan dengan alat. Interaksi sesama manusia, kepekaan terhadap ingkungan sekitar, sifat kepedulian adalah beberapa dari banyak karakter yang tidak lagi kita temui saat ini.

Anak-anak kecil dibesarkan didalam “kotak” yang menjadikannya sosok yang egois, tidak mau bergerak dan tak lagi peka dengan lingkungannya. Tidak dapat dipungkiri, kehadiran berbagai gadget yang bisa melakukan apa saja termasuk permainan, dari mulai permainan online ataupun offline membuat permainanpermainan yang dulu pernah kita lakukan seakan menghilang tidak pernah terlihat lagi di lingkungan masyarakat.

Banyak anak-anak yang lebih memilik bermain angry birds, coc, Mobile Legend, di tablet atau ponsel dibandingkan bermain petak umpet, lompat tali dan sebagainya. Permainan tradisional sangat populer sebelum teknologi masuk ke Indonesia. Pada zaman dahulu, anak-anak bermain dengan menggunakan alat yang seadanya.

Namun kini, mereka sudah bermain dengan permainan-permainan berbasis teknologi yang berasal dari luar negeri dan mulai meninggalkan mainan tradisional. Seiring dengan perubahan zaman, permainan tradisional perlahan-lahan mulai terlupakan oleh anak-anak Indonesia. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sama sekali belum mengenal permainan tradisional. Pada umumnya, permainan tradisional memiliki ciri kedaerahan asli sesuai dengan tradisi budaya setempat.

Permainan tradisional memiliki ciri dan keterkaitan yang erat dengan unsur tradisi kebiasaan atau adat suatu kelompok masyarakat tertentu. Permainan tradisional ini sesungguhnya memiliki manfaat yang baik bagi perkembangan anak, baik secara fisik maupun mental. Kita dapat mengembangkan kecerdasan intelektual anak dengan menggunakan permainan conglak atau dakon. Permainan ini dapat melatih otak kiri anak dan melatih anak dalam penggunaan strategi untuk mengumpulkan biji lebih banyak daripada lawannya.

Baca :   Bayside Ranch a perfect canvas for interior designer 2016

Kecerdasan secara mental atau emosional dapat dikembangkan dengan bermain layang-layang karena permainan ini membutuhkan kesabaran dari pemainnya sehingga pemain dapat mencari arah angin yang tepat untuk menerbangkan layang-layang. Selain itu, kreatifitas anak juga dapat dikembangkan melalui permainan pesawat-pesawatan yang berasal dari kertas bekas atau kertas lipat.

Kemampuan bersosialisasipun dapat ditingkatkan melalui permainan lompat tali, kelereng, dan petak umpet. Selain itu, permainan tradisional seperti egrang juga mampu untuk melatih perkembangan motorik anak. Hal tersebut dikarenakan anak harus meloncat dengan satu kaki dan anak berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya. Loncatan tersebut baik bagi metabolisme anak.

Manfaat lain yang pertama, permainan tradisional cenderung menggunakan atau memanfaatkan alat atau fasilitas di lingkungan kita tanpa harus membelinya sehingga perlu daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi, misalkan mobil-mobilan yang terbuat dari kulit jeruk bali, engrang yang dibuat dari bambu, permainan ecrak yang menggunakan batu, telepon-teleponan menggunakan kaleng bekas dan benang nilon dan lain sebagainya. Kedua, permainan anak tradisional melibatkan pemain yang relatif banyak. Tidak mengherankan, kalau kita lihat hampir setiap permainan rakyat begitu banyak anggotanya, seperti petak umpet, congklak dan gobak sodor.

Ketiga, permainan tradisional menilik nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu seperti nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, sikap lapang dada (kalau kalah), dorongan berprestasi, dan taat pada aturan. Semua itu didapatkan kalau si pemain benar-benar menghayati, menikmati, dan mengerti sari dari permainan tersebut.

Permainan tradisional dapat menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak yang dapat meliputi hal-hal sebagai berikut :

Aspek motorik, dengan melatih daya tahan, daya lentur, sensorimotorik, motorik kasar, dan motorik halus. Aspek kognitif, dengan mengembangkan imaginasi, kreativitas, strategi dan pemahaman kontekstual. Aspek emosi, dengan menjadi media katarsis emosional, dapat mengasah empati dan pengendalian diri.

Baca :   Kim Kardashian Shows Off Deep Cleavage In Plunging Top & Mini

Aspek bahasa, berupa pemahaman konsep-konsep nilai. Aspek sosial dengan mengkondisikan anak agar dapat menjalin relasi, bekerjasama, melatih kematangan sosial dengan teman sebaya dan meletakkan pondasi untuk melatih keterampilan sosialisasi dengan berlatih peran dengan orang yang lebih dewasa dan masyarakat secara umum.

Aspek spiritual, permainan tradisonal dapat membawa anak untuk menyadari keterhubungan dengan sesuatu yang bersifat Agung (transcendental). Aspek ekologis dengan memfasilitasi anak untuk dapat memahami pemanfaatan elemen-elemen alam sekitar secara bijaksana dan Aspek nilai-nilai/moral dengan memfasilitasi anak untuk dapat menghayati nilai-nilai moral yang diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya.

Disisi lain, meskipun manfaat permainan tradisional sangat banyak bagi tumbuh kembang anak, tidak banyak orangtua yang mengetahui manfaat tersebut, bahkan orangtua sangat jarang masih mengingat bagaimana memainkannya dan jarang menceritakan permainan tradisional yang pernah di mainkan dulu pada anak-anaknya.

Hal ini tentu membuat eksistensi permainan semakin tidak diketahui oleh masyarakat luas. Bahkan mereka tidak menyadari bahwa tingkat kecanduan anak terhadap games online di Indonesia saat ini berada pada level sangat tinggi.

Dampak yang ditimbulkannya pun sangat memprihatinkan karena berpengaruh pada prestasi belajar, menyebabkan anak berperilaku agresif, bahkan menjerumuskan anak dalam tindak kriminal seperti pencurian dan pemerkosaan, serta menyebabkan anak mengalami kepribadian ganda yang bisa berujung pada kematian.

Pengawasan orang tua sangat diperlukan sebagai pelindunng, pendidik, dan penanggungjawab terhadap anak di dunia dan di akhirat, sehingga orang tua harus meluangkan waktunya untuk anak, menjadi sahabat bagi anak dengan perhatian dan kasih sayangnya, membekali anak dengan pengetahuan keagamaan, serta menjadi teladan bagi anak dalam bersikap dan beperilaku. Hal ini dapat melindungi anak dari bahaya yang setiap saat mengintai.(*)

BERBAGI