Beranda Politik MUI dan Masyarakat O’o Deklarasi Tolak Penggunaan Masjid Sebagai Tempat Kampanye

MUI dan Masyarakat O’o Deklarasi Tolak Penggunaan Masjid Sebagai Tempat Kampanye

374
Foto Fahar/www.intirakyat.com Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Dompu bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh pemuda Desa O’O, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, melakukan deklarasi tolak penggunaan Masjid sebagai tempat kampanye

DOMPU, INTIRAKYAT.COM – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Dompu bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh pemuda Desa O’O, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, usai Shoalat Jum’at berjamaah di Masjid Miftahul Jannah, Jum’at (2/3) siang tadi melakukan deklarasi penolakan terhadap penggunaan Masjid atau sarana Ibadah sebagai tempat Kampanye.

Tidak hanya penolakan terhadap penggunaan sarana ibadah, dalam acara itu, mereka juga menolak politisasi Suku, Agama dan Ras (SARA) serta Ujaran Kebencian dalam pelaksanaan Kampanye pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Anggota DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPD, DPR RI dan Pemilu Presiden tahun 2019.

Deklarasi tersebut ditandai dengan pemasangan spanduk di masjid Miftahul Jannah Desa O’o yang berisikan pernyataan sikap bersama MUI Kabupaten Dompu dengan Toga, Toma dan Toda Desa O’o Menolak Politisasi Sara & ujaran kebencian serta penggunaan Masjid/Mushollah sebagai sarana berkampanye demi menciptakan Pilkada 2018, Pileg dan Pilpres 2019 yang damai diwilayah Provinsi NTB.

Baca :   Parangkat Uji Putusan Pemberhentian oleh Kades Saneo ke PTUN Mataram

Ketua MUI Kabupaten Dompu Dr. (HC) H. Abdullah Arsyad, S.Ag, yang bertindak sebagai Khatib dan imam menyerukan kepada seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Desa O’o agar menjaga hubungan baik antar sesama manusia dan selalu meningkatkan ketakwaan Kepala Allah.

Foto Fahar/www.intirakyat.com
Foto bersama bersama warga Desa O’o dan pemuka agama dan pemuka masyarakat

 

“Jika kita ingin hidup damai dan rukun, terus jaga silaturrahim dengan sesama manusia, terus menjaga kecintaan kepada Allah dengan cara menjalankan Sholat, banyak membaca Al Quran dan banyak berzikir serta bertasbih kepada Allah,” ungkapnya.

Ketua MUI juga menghimbau agar setiap organisasi dan kelompok yang ada ditengah masyarakat, menjadi pelopor yang membawa kedamaian dan ketentraman ditengah masyarakat.

Salah satu tokoh masyarakat Desa O’o, Taufik M. Nur, dikonfirmasi media ini di sela-sela acara deklarasi mengatakan secara tegas bahwa, Masjid merupakan sarana ibadah bukan sarana untuk berkampanye.

Pelaksanaan kampanye dalam kontestasi politik juga sebuah keharusan agar masyarakat faham apa yang menjadi visi misi dari calon, namun kampanye tersebut tidak bisa dilakukan di dalam sarana ibadah seperti masjid.

Baca :   Jelang Pilgub 2018, Kesbagpoldagri Dompu Keluarkan Himbauan

Menurutnya, dahulu Nabiulah Muhammad SAW, telah mengajarkan umat islam untuk berpolitik, bahkan menjadi sebuah keharusan, namun pelaksanaannya harus juga sesuai dengan tuntunan nabi.

“Memilih pemimpin bagi umat islam, Allah sudah mengaturnya dalam Al Quran Suart Al Maidah ayat 51. Itu adalah cara umat islam berpolitik. Allah memerintahkan untuk berpolitik, tapi diatur juga bahwa kewajiban kita sebagai warga negara kita jalankan dengan cara memilih pemimpin,” jelasnya.

Acara yang digelar secara suadaya tersebut, digelar tanpa kehadiran Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Dompu Dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Dompu sebagai lembaga pengawas dan penyelenggara pemiliu.

Masyarakat menyayangkan, seharusnya dalam deklarasi tersebut harusnya pihak Bawaslu dan KPU bisa terlibat aktif karena memang tugas tanggungjawab KPU untuk mengkampanyekan hal tersebut. (IR1)

BERBAGI