Beranda Ekonomi Limbah Akar Kayu Jati Berubah Jadi Benda Berharga ?

Limbah Akar Kayu Jati Berubah Jadi Benda Berharga ?

56

DOMPU, intirakyat.com – Daerah Kabupaten Dompu, tidak hanya terkenal dengan peningkatan nilai ekonominya melalui tanaman jagung. Akan tetapi ternyata, Dompu memiliki masyarakat yang memiliki berbagai keahlian diberbagai bidang, salah satunya dalam hal kerajinan tangan.

Potensi dan keahlian ini pun, juga mampu menyedot perhatian dari masyarakat luar yang memang merasa kagum dan bangga terhadap hasil karya tangan masyatakat Dompu.

Seperti hal yang dilakukan oleh Adlun (42 thn) seorang warga Dusun Saleko, Desa Sorisakolo, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu bersama dua orang rekannya yang juga warga Dompu.

Melalui tangan trampilnya dengan memanfaatkan limbah akar kayu jati, mereka berhasil membuat berbagai meja, kursi dan hiasan tembok dengan ukiran yang sangat indah dan menarik.”Berbagai kursi, meja dan hiasan tembok yang kami buat ini semuanya berbahan dasar limbah akar kayu jati,” ujarnya, Selasa (5/2/2019).

Hasil karya tangan mereka ini pun, dipasang dengan harga yang nilainya cukup fantastic alias Jutaan Rupiah per-buahnya.”Kami sengaja menjualnya dengan harga yang mahal karena hasil karya tangan seperti ini jarang ada di dompu,” katanya.

Apa yang mendasari sehingga adanya niat untuk membuat karya tangan ? Kata Dia, awalnya ide ini muncul dari pemikirian dirinya bersama dua orang rekannya.

Baca :   Ketersedian Beras di Dompu Stabil

“Saat itu kami sedang mancing ikan di laut. Dan kami melihat banyak tumpukan limbah akar kayu jati di lahan jagung milik warga. Nah, kebetulan kami sama – sama berprofesi sebagai tukang kayu, akhirnya kami sepakat untuk membuat kerajinan tangan dengan memanfaatkan libah kayu itu,” ungkapnya.

Menurut Dia, tidak selamanya limbah hanya bisa menjadi kayu bakar. Akan tetapi semua itu tergantung pemikiran mau dimanfaatkan untuk apa.”Dari pemikiran itulah, kami membuat kerajinan tangan berupa perabot rumah tangga.

“Satu buah hasil kerajinan tangan dikerjakan berhari hari bahkan bisa seminggu lebih lamanya. Pekerjaan ini tentu butuh tangan trampil, sehingga dalam menyelesaikan satu ukiran kami selalu bertukar pendapat, hingga berhasil membuat berbagai hasil kerajinan tangan” jelasnya.

Apa kendala yang dirasakan saat ini ? Dikatakan Adlun, sampai saat ini hanya terkendala di alat yang masih kurang memadai. Karena selama ini, hasil kerajinan tangan dibuat dengan menggunakan alat seadanya.

“Walau menggunakan alat seadannya, tapi kami berhasil membuat kerajinan tangan yang tidak kalah hebatnya dengan tukang kayu dari Jepara atau dari kota Dewata (Bali),” terangnya.

Dilokasi yang sama, Sapta Prabu rekan kerja Adlun menyebutkan, siapapun manusia memiliki keahlian masing masing. Begitupula dengan orang Dompu, tidak selamanya hasil karya seni itu identik oleh orang Jawa, toh hasil kerja warga Dusun Saleko pun mampu menyamai hasil kerja mereka (Jepara).

Baca :   DPRD dan Pemda Dompu Tak Hadiri Dialog Resolusi Banjir

“Hanya saja kita yang tinggal didaerah selalu memuji orang luar Dompu yang dibanggakan. Kami ini adalah asli Dompu, tentu memiliki bakat setara dengan hasil karya ukir dengan daerah lain. Berbicara seni saya beberapa kali mengikuti kontes pameran seni di Jakarta, bandung dan pernah juga daerah Bali,” paparnya.

Diakuinya, keahilan dalam hal kerajinan tangan (seni ukir) didapati oleh dirinya dari Hamid Musti atau biasa dikenal Hima Tato selama 5 Tahun. Dari itulah kata Dia, dirinya berhasil mengenal dunia kerajinan tangan.”Alhamdulillah, kami bertiga berhasil menciptakan atau membuat berbagai hasil karya kerajinan tangan dari limbah akar kayu jati,” tuturnya.

Apa harapannya kedepan ? Kata Sapta, semoga hasil kerajinan tangan ini bisa mendapat perhartian dari pemerintah khusunya Bupati Dompu Drs. H. Bambang M. Yasin.”Kami sangat ingin sekali menunjukan secara langsung ke Bupati Dompu Drs. H. Bambang M. Yasin berbagai hasil karya tangan yang kami buat ini,” Harapnya.(IR3)

BERBAGI