Beranda Hukum Gakkum KLHK Sita 11 Kontainer Kayu Illegal Senilai RP 3,5 Miliar

Gakkum KLHK Sita 11 Kontainer Kayu Illegal Senilai RP 3,5 Miliar

174

MATARAM, intirakyat.com -Penyidik Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPNS LHK) Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK kerja bersama dengan PPNS Dinas LHK NTB, Jumat (15/2/2019) berhasil membongkar praktek pembalakan liar di Labuhan Lombok, Kabupaten Lombok Timur NTB.

Tim penyidik gabungan selain mengamankan 3 orang tersangka, juga menyita barang bukti hasil kejahatan pembalakan liar berupa kayu olahan sebanyak 177 meter kubik (setara dengan 11 kontainer), 1 set dokumen palsu Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan Kayu Olahan (SKSHHKO) dan 1 unit Kapal Layar Motor Bunga Yuliana dengan berat 102 Gross Ton.

Setelah dilakukan lacak balak, diduga asal kayu olahan tersebut berasal dari kawasan
Konservasi Suaka Margasatwa Buton Utara, Kabupaten Buton Utara. Diduga tersangka melakukan kejahatan dengan modus pemanfaatan kayu secara ilegal menggunakan dokumen perizinan dan surat angkut kayu yang tidak sah dibuat terkesan menjadi sah/legal.

Kerugian negara dan lingkungan hidup akibat kejahatan ini diperkirakan paling sedikit RP 3,5 Miliar, dengan perhitungan PNBP (PSDH & DR) yang tidak dibayarkan sebesar RP 270 Juta ditambah denda 10 kali lipatnya, serta nilai tegakan kayu yang dicuri sebesar RP 800 juta, serta kerugian akibat kerusakan ekosistem yang tidak ternilai.Sementara itu barang bukti yang telah disita berupa kayu dan kapal layar motor akan dirampas untuk negara
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Baca :   Terkait Kasus Illegal Loging Siti Sarah, Kejaksaan Tinggi Surati DLHK NTB

Tim Penyidik telah melakukan serangkaian proses penyidikan dan menetapkan tiga orang sebagai tersangka perorangan yang salah satunya (tersangka atas nama DAG,Red) sudah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Tinggi NTB.

Tersangka dijerat dengan Pasal 83
ayat (1) huruf b Jo. Pasal 12 huruf e dan/atau Pasal 88 ayat (1) huruf b Jo. Pasal 14 huruf a dan b dan/atau Pasal 94 ayat (1) huruf d Jo. Pasal 19 huruf f Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan/atau Pasal
78 ayat (5) Jo. Pasal 50 ayat (3) huruf e Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Tersangka diancam dengan pidana penjara
paling singkat 8 (delapan) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak RP 100.000.000.000,00

Direktur Penegakan Hukum Pidana KLHK, Yazid Nurhuda, menegaskan, penanganan kasus pembalakan liar ini merupakan hasil kerja bersama antara penyidik Gakkum LHK dan Dinas LHK Propinsi NTB.

“Kolaborasi penyidikan ini perlu dijadikan contoh dan direplikasi ke daerah lain karena terbukti mampu menjadikan proses penegakan hukum dapat dilakukan secara efektif dan diharapkan memberikan efek jera bagi para pelaku pembalakan liar,” katanya.

Dikatakan Yazid, KLHK terus berupaya untuk selalu berkomitmen dan serius dalam menyelamatkan sumber daya alam dan aset negara serta menindak tegas pelaku kejahatan sumber daya alam, khususnya pelaku pembalakan liar.

Baca :   Pelapor Kasus Tipidhut Serahkah Berkas Laporan di Kantor Gubernur NTB

Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum KLHK, Dr. Rasio Ridho Sani, menegaskan hasil kerja penyidik dalam memberantas praktek illegal logging ini menujukkan komitmen dan konsistensi penegakan hukum LHK. Dalam 3,5 tahun ini, kata Dia KLHK sudah membawa 595 kasus LHK ke pengadilan, baik terkait dengan pidana maupun perdata.

“Kami akan gunakan semua instrumen hukum untuk menguatkan efek jera, kata
Rasio Sani. Baru-baru ini PPNS LHK telah berhasil dalam penindakan 384 kontainer kayu illegal asal Papua pada Bulan Desember 2018 sampai dengan Bulan Januari 2019,” ungkapnya.

Ditambahkan Yazid, Sinergitas dan kerjasama penanganan kasus pembalakan liar ini, diharapkan dapat menjadi praktik terbaik (best practice) oleh aparat penegakan hukum dalam penanganan kasus kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan lainnya. Saat ini lanjut Dia, penyidik LHK telah melakukan penyerahan barang bukti dan tersangka (Tahap II) kepada Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi NTB.

“Sementara itu, masih ada lima orang diduga keras terlibat dalam kasus praktek pembalakan liar ini dan akan segera diproses penegakan hukumnya, dua orang DPO dan tiga orang berada di Buton Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara,” jelasnya.(IR3)

BERBAGI