Beranda Kelautan & Perikanan Budidaya Rumput Laut, Program Yang ‘Terlupakan’

Budidaya Rumput Laut, Program Yang ‘Terlupakan’

21

DOMPU,intirakyat.com – Selama periode kepemimpinan Bupati Dompu Drs. H. Bambang M. Yasin, Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu telah dikenal dengan Program Unggulan PIJAR (Sapi, Jagung, Rumput Laut) yang kini bertransformasi menjadi program TERPIJAR yakni Tebu Rakyat, Sapi, Jagung dan Rumput Laut. Bahkan program ini telah sukses membawa nama Dompu terkenal di kancah Nasional maupun Internasional.

Namun ditengah menggaungnya progran Terpijar ini, ada sesuatu hal yang terkesan di lupakan alias tidak nampak dipermukaan. Sebut saja, Rumput laut. Budidaya rumput laut yang sebelumnya masuk dalam item program Terpijar ini terkesan tidak pernah terlihat dibudidaya oleh masyarakat di dana bumi nggahi rawi pahu.

Padahal rumput laut ini, juga menjadi program penting pemerintah daerah Kabupaten Dompu untuk dikembangkan oleh masyarakat melalui aktivitas budidayanya.”Saya terkesan bingung kenapa aktivitas budidaya rumput laut yang tidak pernah muncul alias tidak diketahui oleh publik,” ujar Ramdan warga Kecamatan Woja Dompu, saat diwawancarai wartawan ini, Minggu (23/12/2018).

Ramdan menyebut, program Terpijar yang lebih muncul yakni tanaman jagung. Sementara program lain yang juga masuk dalam program terpijar tersebut terkesan tidak muncul dipermukaan.”Lantas, apakah program Terpijar itu hanya tanaman jagung kah,” tanyanya.

Baca :   Combine Bantuan Segera Dimanfaatkan

Dilain hal lanjut Ramdan, berbicara mengenai program terpijar salah satunya ternak Sapi, itu juga perlu dikembakan secara serius oleh pemerintah daerah. Namun sayangnya, mengenai sapi juga terkesan seperti program yang terlihat seperti biasa – biasa saja.

“Lihat saja, selama ini masyarakat petani ternak sangat bersemangat bertenak sapi dan melepas ternaknya di kawasan savana doro ncanga. Namun pasca kehadiran PT SMS di wilayah Doro Ncanga dan sekitarnya, terkesan mengambil alih lahan itu untuk kepentingan menanam tebu. Akibatnya, ternak sapi yang dilepas di lokasi setempat terkesan tidak leluasa untuk mencari makan,” ungkapnya.

Begitu juga dengan Tebu Rakyat tambah Ramdan, juga terkesan biasa – biasa saja dan tidak seperti tanaman jagung. Hal itu terbukti, semenjak program tebu rakyat ada di Dompu terkesan tidak menunjukan eksitensi masyatakat petani tebu yang mengaku bangga dan terbantu dengan menanam tebu.

“Setahu saya, harga tebu lebih murah dibanding harga jagung. Bahkan saya lihat, petani lebih banyak menanam jagung ketimbang menanam tebu. Artinya ini menunjukan bahwa tanaman tebu tidak mampu meningkat nilai ekonomi bagi masyatakat dompu,” jelasnya.

Baca :   Komisi I Soroti Pemberhentian Aparatur Desa

Kalau begini adanya sambung Ramdan, mending masyarakat khususnya petani lebih fokus saja menanam jagung. Bila perlu kata Dia, lahan yang digunakan oleh PT. SMS itu dimanfaatkan saja untuk menanam jagung.

“Menurut saya, lahan yang digunakan oleh PT SMS itu mending di pakai untuk menanam jagung ketimbang menanam tebu. Sebab hasil jagung sangat luar biasa dan mampu menberikan keuntungan besar bagi para petani,” terangnya.

Lebih jauh Ramdan menegaskan, sepengetahuan dirinya ketika pemerintah mencanankan suatu program tentu dibarengi dengan pengalokasian anggaran untuk meningkatkan program tersebut. Lantas kata Dia, kalau hanya sebagian item program saja yang muncul tentu anggaran terkesan terbuang percuma.

“Apa gunanya dialokasikan anggaran untuk membiayai berbagai kegiatan peningkatan program, kalau hanya satu item progran saja yang berhasil dan sukses. Mending pengalokasian anggaran lebih fokus saja ke program tanaman jagung,” Tandasnya.(IR3)

BERBAGI