Beranda Opini Bersama Dompu Gowes Community/DGC

Bersama Dompu Gowes Community/DGC

172

By : Afifuddin,MM / Afievotiz

INTIRAKYAT – Gowes selama ini merupakan olahraga/hobby yang sering dilakukan baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri di berbagai tempat termasuk di sekitaran Kota Dompu. Berawal dari hobby yang sama, saling menyapa dan bercerita tentang gowes baik tentang rute, kostum maupun jenis sepeda serta problematikanya, disepakatilah untuk membentuk satu komunitas dengan nama DOMPU GOWES COMMUNITY (DGC).

Komunitas yang umurnya belum setahun ini diketuai oleh Bapak Gatot Gunawan yang biasa disapa “Mas Toto” juga merupakan seorang birokrat kawakan di Pemda Dompu. DGC ini beranggotakan anak – anak muda sampai orang tua, baik pria maupun wanita dari semua kalangan dan profesi, dari swasta yaitu karyawan swasta, pedagang, pengusaha, LSM maupun wartawan dan aparat negara baik PNS maupun TNI/POLRI serta pejabat, hingga sampai dengan sekarang anggota DGC berjumlah sekitar 70 orang.

Dengan nota bene latar belakang yang berbeda tentu anggotanya memiliki sifat, karakter, pengalaman dan pengetahuan berbeda. Sehingga dengan hobby yang sama, kesempatan untuk mengakses informasi, melatih diri untuk bersosialisasi serta memberikan banyak inspirasi tentang banyak hal terbuka lebar.

Ada banyak jenis sepeda yang digunakan anggota Dompu Gowes Community (DGC), antara lain berbagai jenis dari Sepeda Gunung (MTB), Sepeda Balap, Sepeda Hybrid (Hybrid Bike), Sepeda BMX, Sepeda Lipat, Sepeda Fixie, dan Sepeda Onthel. Sesuai dengan namanya, MTB (Mountain Bike ) terasa lebih cocok bila digunakan dalam area pegunungan atau medan berat lainnya.

Sepeda MTB biasa dikenal dengan sepeda gunung dengan ciri-ciri, rangka terbuat dari pipa yang relatif lebih besar dan kuat bila dibandingkan dengan jenis sepeda lainnya, ukuran roda 26 dengan tapak ban yang cukup lebar karena dikhususkan untuk medan berat, menggunakan shock breaker pada roda depan atau dikeduanya serta mempunyai tiga gear depan dan 10 gear belakang.

Sepeda balap merupakan jenis sepeda yang digunakan di jalan raya dengan kecepatan tinggi sehingga dapat dipacu di jalan datar, mampu melaju hingga kecepatan 60 km/jam, dengan ciri-ciri rangka pipa relatif lebih kecil, diameter ban yang digunakan lebih besar dari MTB namun lebar peleg lebih kecil daripada MTB, tidak menggunakan shock breaker, tapak ban relatif lebih halus, gear yang digunakan bisa tiga gear depan dan 10 gear belakang, setir berbentuk melengkung pada ujung-ujungnya bertujuan supaya para pengendara dapat merendahkan posisi badannya sehingga bisa diperoleh aerodinameter yang ideal.

Sepeda Hybrid (Hybrid Bike), jenis sepeda yang satu ini merupakan perpaduan antara sepeda gunung dan sepeda balap. Sepeda yang satu ini lebih cocok digunakan di jalan raya, ciri-ciri sepeda hybrid adalah bentuk rangka hampir mirip dengan sepeda gunung, Terdapat shock breaker pada roda depannya, diameter pipa lebih mirip sepeda balap.

Ukuran roda 27” sehingga mirip dengan sepeda balap, ban lebih lebar dari sepeda balap dengan disertai permukaan tapak yang sedikit bertekstur. Sepeda BMX adalah sepeda yang digunakan untuk atraksi ekstrim dan juga merupakan jenis sepeda yang paling disukai oleh kawula muda.

Sepeda Lipat meskipun terbilang baru, jenis sepeda yang satu ini rupanya telah banyak memikat para pengguna sepeda.para penggemar sepeda Lipat mereka yang mengusung gerakan “bike to work” juga banyak yang menggunakannya terutama di kota kota besar.

Sepeda Fixie mempunyai desain yang cukup unik dengan tampilan warnanya yang cerah. Selain itu sepeda ini tanpa adanya sistim rem kabel,untuk mengerem atau mengurangi kecepatan dengan cara menggoes kebelakang. Sedangkan terakhir yaitu Sepeda Onthel adalah sepeda klasik yang pernah populer di Indonesia sekitar tahun 70-an.

Baca :   Inspektorat Daerah Menuju Paradigma Baru

Meskipun sekarang ini keberadaanya tidak se-populer zaman dulu, akan tetapi sepeda onthel masih tetap eksis dibeberapa wilayah Indonesia, terutama di daerah pedesaan.

Dari sekian jenis sepeda, MTB merupakan jenis sepeda yang paling mendominasi di kalangan para anggota DGC. Namun perbedaan jenis sepeda bukanlah menjadi kendala dalam bergabung dan bersama DGC.

Justru yang jadi perdebatan adalah pada saat menentukan rute/ trip yang akan dilalui karena jenis sepeda dirancang untuk digunakan pada medan tertentu, apabila dipilih jalur yang jalannya berbatu, terjal dan berbukit maka yang protes adalah para anggota yang memakai sepeda balap karena kedua rodanya sangat kecil sehingga resiko pecah ban sangat tinggi namun para pemakai sepeda balap ini diberi tolerasi jalan potong menggunakan jalan aspal dan ketemu pada titik tertentu.

Sebaliknya apabila rute/trip banyak melalui jalan beraspal maka pengguna sepeda balap yang biasanya selalu didepan para pemakai MTB malah selalu tertinggal dan tidak mampu mengejar para pemakai sepeda balap. Namun itu semua tidak menjadi kendala bagi anggota DGC, karena semua anggota dapat memahami dan menyadari serta menghargai kelebihan dan kekurangan jenis sepeda masing masing.

Saat ini para anggota DGC telah tergabung dalam satu grup sosial media dengan nama Dompu Gowes Community. Sarana komunikasi melalui medsos ini menjadi pilihan yang paling mudah dan cepat untuk berdiskusi tentang banyak hal baik itu tentang waktu dan rute yang akan dilalui nantinya. Tidak ada jadwal tetap dalam melakukan gowes, tergantung kesempatan dan kesepakatan.

Biasanya jadwal gowes dilakukan pada sore hari setelah sholat ashar atau setelah semuanya pulang kantor/kerja. Rute yang dilalui tidak begitu jauh, sekitar kota dan desa yang sejuk dan bagus pemandangannya bahkan rute disepakati bersifat mendadak setelah para komunitas gowes berkumpul.

Biasanya titik kumpul ditaman kota dan paling lama gowes dilakukan lebih kurang 2 jam termasuk berselfi diberbagi tempat, bergaya baik sendiri atau dengan komunitas sehingga rasanya kurang asyik/lengkap kalau gowes tanpa membawa kamera atau handphone, setelah itu kembali menjelang magrib.

Namun semua anggota akan berusaha untuk turun/hadir pada hari sabtu dan minggu atau pada hari libur tertentu, dan rute yang dilalui tidak seperti biasanya, agak jauh sehingga memerlukan fisik dan tenaga yang prima. Rute yang dilalui adalah jalan ekonomi yang belum beraspal disekitar pedesaan, melewati jalan berbatuan atau menuju daerah wisata dan jalur hijau segar sehingga disamping olahraga menyehatkan badan dan dapat melancarkan aliran darah dan oksigen ke otak.

Manfaat olahraga sepeda lainnya adalah tubuh akan membersihkan diri dari kortisol hormone stress penyebab susah tidur nyenyak dan tubuh akan mengeluarkan hormon yang disebut endorphin. Hormon ini memicu rasa nyaman dan suasana hati yang positif. Selain itu endorfin juga bisa mengurangi rasa sakit.

Timbulnya rasa nyaman dalam tubuh otomatis akan membuat pikiran anda lebih tenang. Kondisi ini membuat penurunan tingkat strees, tubuh akan makin terasa fit ditambah lagi melihat pemandangan dan alam yang segar dan hijau, sehingga perjalanan memakan waktu lebih lama karena setiap pemandangan yang indah digunakan untuk latar berfoto selfi dan istrahat sambil menunggu anggota komunitas lain yang masih tertinggal bahkan kadang para anggota sanggup mengangkat sepedanya agar bisa berfoto dengan sepeda apabila melihat latar yang bagus untuk selfi, padahal tempat tersebut tidak ada akses atau susah dilalui oleh sepeda, semua itu dilakukan demi berselfi dengan sepedanya.

Baca :   Pilkada Dompu Sepi Politisi

Lucunya para anggota rela saling berebutan selfi bila melihat latar yang dirasa bagus berselfi atau saling bergantian photo dengan anggota lainnya. Selama perjalanan tidak terasa capek walaupun sudah puluhan kilo meter jalur yang ditempuh mungkin karena banyak teman, mengayuh sepeda sambil ngobrol dengan sesama anggota gowes walaupun kadang kadang ada rasa khawatir mengganggu lalu lintas atau resiko kecelakaan sangat tinggi namun Alhamdulilah banyak teman yang mengingatkan pentingnya tertib berlalu lintas.

Bayangkan para anggota mengayuh sepeda dari pagi dan memakan waktu sekitar 3 sampai 4 jam tanpa terasa capek, apalagi rute tujuan adalah pantai atau pemandangan yang hijau, maka rasa lelah akan hilang dengan memandang panorana alam yang indah dengan nuasanya biru nya laut dan putihnya pasir pantai dengan semilir angin yang menyejukan serta sambil mengambil moment-moment yang indah dengan kamera handphone atau kamera DSL sendiri sendiri atau bersama sama anggota komunitas.

Setelah puas berfoto-foto baru dilanjutkan dengan makan siang bersama sama, nasi dan minum sudah tersedia hasil patungan para anggota atau kerelaan salah satu anggota menyumbangkan konsumsi bagi anggota secara bergilir. Konsumsi tersebut diangkut oleh mobil pick-up yang khusus disediakan untuk mengangkut anggota yang tidak dapat melanjutkan karena pecah ban, putus rantai atau sudah kelelahan tidak mampu mengayuh lagi untuk sampai ketujuan.

Kegiatan selanjutnya setelah makan siang adalah membersihan dan memungut sampah disekitar pantai atau rute tujuan terutama sampah plastic/non organik dan akan dimasukan di karung dinaikan di kendaraan untuk diserahkan ke pemulung sedangkan sampah organik dibakar ditempat. Dan rencana kedepan nanti sesuai ide dan gagasan para anggota DGC kegiatan bakti sosial akan dilakukan disela sela gowesnya.

Setelah pemungutan sampah dilakukan adalah persiapan untuk pulang dengan mendata siapa yang mampu balik dengan mengayuh sepeda kembali atau sepeda nya di naikan ke kendaraan pik up setelah itu baru star kembali ke titik kumpul, biasanya di taman kota.

Antara jumlah anggota yang mengayuh sepeda jelas berbeda jumlah bahkan kurang dari setengah yang berangkat biasanya yang naikan kendaraan para anggota yang usianya diatas 45 atau wanita, sedangkan yang mengayuh/gowes pulang didominasi anak anak muda yang masih segar dan kuat yang usianya di bawah 40an, para anggota yang sepedanya dinaikan dikendaraan pick-up bisa menumpang pick-up tersebut atau menumpang kendaraan anggota gowes yang mengawal selama rute yang dilalui tetap mengawal teman teman yang gowes balik, karena dikhawatirkan dalam perjalanan pulangnya tidak mampu melanjutkan perjalanan pulangnya karena berbagai sebab sehingga segera mungkin diangkut dengan kendaraan menuju titik finish/ taman kota.

Apabila semua anggota sudah berada di garis finish baik yang gowes maupun yang naikan kendaraan sepeda diturunkan dari kendaraan dan masing masing anggota gowes menuju rumahnya masing-masing dan apabila tidak kuat atau jarak rumahnya jauh dari taman kota akan didrop oleh kendaraan tersebut ke rumahnya tetapi sebelumnya didahului dengan cek jumlah anggota yang sampai finish dan berapa yang keluar ditengah jalan karena rute melewati rumah atau sesuatu hal sehingga tidak ada anggota gowes yang kececeran selama melakukan gowes.

Itulah cerita gowes bersama DCG yang sangat menyenangkan dan membuat kita ingin tetap bersama dan menjadi ketagihan gowes walaupun badan capek dan pegal pegal. Intinya tidak ada ada hoby yang tidak berkorban baik itu biaya, tenaga dan waktu termasuk pegal pegalnya.(*)

BERBAGI